Gen Z Rentan Dipecat Akibat Lemahnya Soft Skill : Pakar Soroti Pentingnya Adaptasi
Deputi Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Amich Alhumami, mengungkapkan fenomena memprihatinkan di dunia kerja: banyaknya Generasi Z (lahir 1997-2012) yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat lemahnya soft skill. Hal ini disampaikan Amich dalam diskusi publik di Jakarta Selatan (10/12/2024).
Soft Skill vs Hard Skill: Mana Lebih Krusial?
Menurut Amich, meskipun hard skill (kompetensi teknis) penting, soft skill—seperti kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi—menjadi faktor dominan penentu keberhasilan karir. “Viralnya kasus PHK Gen Z sering terkait kelemahan mereka dalam berinteraksi. Riset terbaru membuktikan, 70% kesuksesan di tempat kerja ditentukan oleh soft skill,” tegasnya.
Ia menambahkan, tantangan utama Gen Z adalah membangun karakter melalui penempaan diri, baik lewat pendidikan formal maupun aktivitas non-akademik seperti pelatihan kepemimpinan atau kerja sukarela. “Karakter resilien tidak terbentuk instan, tetapi lewat proses panjang pengalaman dan pembelajaran,” ujarnya.
Pandemi dan Kecemasan: Faktor Tambahan yang Memperparah
Senada dengan Amich, Stephanus Wicardo, Co-Founder Karir Lab, menyebut lemahnya mental Gen Z di tempat kerja tidak hanya karena soft skill, tetapi juga dipicu dampak psikologis pascapandemi. Dalam seminar di Perpustakaan Nasional (11/12/2023), Stephan menjelaskan, riset internal perusahaannya menunjukkan dua masalah utama:
- Kecemasan berlebihan saat menghadapi lingkungan kerja baru.
- Kebiasaan kerja hybrid/jarak jauh selama pandemi yang membuat Gen Z kaku dalam beradaptasi dengan rutinitas kantor.
“Hari pertama kerja sering jadi momok karena tekanan sosial dan ekspektasi yang tidak terkelola,” kata Stephan. Namun, ia menegaskan bahwa masalah ini bukan sepenuhnya kesalahan Gen Z. “Ini adalah akibat dari lingkungan yang belum mendukung pengembangan soft skill secara optimal,” tambahnya.
Solusi Kolaboratif: Peran Pemerintah dan Perusahaan
Kedua pakar sepakat bahwa solusi mengatasi masalah ini harus melibatkan kolaborasi multipihak:
- Pendidikan: Integrasi pelatihan soft skill dalam kurikulum sekolah dan kampus.
- Perusahaan: Program mentoring dan adaptasi progresif untuk karyawan baru.
- Pemerintah: Kebijakan pelatihan vokasi yang berfokus pada pengembangan karakter.
“Gen Z adalah masa depan bangsa. Jika kita gagal mempersiapkan mereka hari ini, dampaknya akan terasa pada produktivitas nasional 10-20 tahun mendatang,” pungkas Amich.

